Thursday, July 28, 2011
Tuesday, July 26, 2011
Teman dalam Kehidupan
Monday, July 25, 2011
Being Foreigners in Our Own Country
For those of you who just never heard of Pulau Joyo, no worries, I had not too, and this time we are not being ignorant Indonesians who are not aware of our islands. Pulau Joyo, apparently as I found out, is a very tiny island off Riau province that had been transformed into a private island getaway serving only high income tourists who prefer some seclusion from the world without having to go to the rural areas. The island houses 4 bungalows that they called “palaces” and from the picture on their website they occupies the majority of the island area. So, from the looks of it, this island has been bought off completely and what was a private island has been developed a little more to luxury boutique hotel to be rented. Although the people who are willing to stay there have to go out of their way to actually reach the island (by a series of plane and boat rides), the place is nothing but rural.
The island was opened for tourists by the couple who owns it on mid of June 2011, so they just getting the buzz very recently. In their facebook page, I saw some people complaining about the change of the island’s name. It was Pulau Suka before it got changed to Pulau Joyo for some reason. I don’t have anything against rich people who goes on buying islands and making business. They probably are great people with excellent business instinct who loves exploring Indonesia and sees the potential in the beautiful petite island that others don’t see. But, I have to say, some things in the website just got my nerves. For one thing, they mention about the Balinese beds and Java houses in the description about the palaces, when they are located in the Riau Archipelago that has a Malay culture mixed with North and West Sumatrans lifestyle, far from resembling that of the Javanese. Another thing is that we can see that it is so much geared towards attracting foreign tourists that the website is either only in English or in Russian and they keep on emphasizing that it’s easy to reach it from Singapore, the current hub of Southeast Asi
a. And I guess while I keep reminding myself that I know nothing about the owner and like I said they are probably great people, it’s hard to not notice the ignorance that the business has towards the country it’s located at. It is somehow very disturbing to think that this “classic Robinson Crusoe island” is nothing like the rest of Riau province, where people can’t even enjoy the beach because they are busy thinking about what the sea might provide for their families today.

Sunday, July 17, 2011
Growing Up with Harry Potter

Finally, this is the weekend where a very good thing has to come to an end. For millions of Harry Potter fans, it's a bittersweet goodbye as they watch their favorite underdog hero defeats You-Know-Who. But at the same time, it's a victory that indicates an ending to 14 years long of book and movie releases of the Potter world.
It was 1997 when the first book, Harry Potter and the Sorcerer's Stone, was released. He was 11 years old back then when he found out that he was a special boy who suddenly realized that magic was real and he had to go to a school called Hogwarts. I was 11 years old and was as spellbound as he was when I discovered the world of books, J.K. Rowling's, particularly, and the magic they could bring into my life. Many of the kids my age that time did not know what "sorcerer" mean, nor did we know the other hundreds unfamiliar words inside the book. But, that certainly did not hinder us to get the idea of the story and imagine the rest of the details ourselves. In a way, the Harry Potter series has revived the passion that kids in my generation should have for stories, reading, and imagination.
Somewhere in the third and fourth book the story plots started to really darken. There was a point where I felt that the series had lost its charm for children and was meant to serve an older audience. I thought it should still portray the more magical side of the school instead of dealing with fights and deaths. But, as I look back, I realize that it had to go somewhere darker and more complicated. The readers who fell in love with the first book had entered an adolescent stage where fear, strength, acceptance, rage, pressure, friendship, love, and hormone imbalance became a daily battle, just like what Harry was like in the books. Then from then on, the other books got even more sophisticated as Rowling kept true to deliver to her loyal readers who became older with time. We were no longer easily stupefied by simple magic. We wanted enemies, betrayal, trickery, scattered clues that only come together close to the very end.
I grow alongside with Harry and the gang. I have matured as they have. In the first movie, Daniel Radcliff came as this cheeky clean-faced boy and now in the last he comes in as a clean-shaved young man. He has currently moved on to doing broadway shows. Emma Watson embodies Hermione's love for learning as she moves on to pursue a degree at Brown University, while Rupert Grint has pursued acting in other movies. They are all moving along. And so should we.

Saturday, July 16, 2011
Indonesia Tidak Cukup Luas Untuk Kita
Amerika adalah daratan sarat akan kesempatan, the land of opportunity. Sebuah negara di mana pendatangnya berebut mengadu nasib, yang miskin jadi kaya, yang bodoh jadi pintar, dan yang kepepet setidaknya bisa menemukan banyak cara untuk bertahan hidup. Tidak diherankan mengapa banyak sekali orang Indonesia yang hijrah ke Amerika. Tapi ternyata kesempatan tidak hanya terbuka di sana, melainkan juga di Singapura, Malaysia, Arab, Australia yang menjadi tempat orang-orang Indonesia menyemut. Fenomena emigrasi ini, baik yang sementara atau pun permanen menjadi sebuah pertanyaan untuk dipikirkan. Tidak cukup luas kah Indonesia untuk kita?
Sepengelihatan saya ada tiga golongan besar orang-orang yang pergi ke luar negeri. Yang pertama adalah dari golongan kelas atas yang memiliki kekuatan finansial yang cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Sebagian dari golongan ini lah yang akhirnya menetap di luar negeri ketika mendapat pekerjaan yang mapan di sana setelah lulus. Yang kedua adalah yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk ke negara tujuan, yang biasanya kembali setelah tenggat waktu studinya selesai. Dan yang ke tiga adalah apa yang kita panggil sebagai pahlawan devisa negara kita, atau Tenaga Kerja Indonesia. Banyak alasan yang bisa dipaparkan yang mendasari keputusan untuk hengkat dari Indonesia. Perlu diakui, sistem edukasi di luar negeri lebih terpercaya dan akses networking ke professor serta orang-orang besar lainnya lebih terbuka lebar. Kenyamanan tinggal di luar negeri juga menjadi suatu daya tarik. Di Singapura contohnya, semua bagian dari negaranya terjangkau dengan MRT dan bus sehingga sebagian besar masyarakatnya tidak mempunyai kendaraan pribadi. Keadaan jalan di Amerika yang mulus dan teratur ditambah dengan kemudahan pemakaian GPS juga membuat banyak orang malas untuk kembali ke kemacetan Jakarta. Keadaan sistem dan akses yang lebih efisien seperti sistem kesehatan, high-speed internet, tingkat keamanan, dan lain sebagainya juga membuat kenyamanan menjadi komoditi yang dimimpikan. Gaji, adalah alasan klasik selanjutnya. Ini lah yang membuat para TKI berani berangkat meskipun sudah mengetahui bahwa nasib seperti Ruyati bukan hanya dongeng belaka. Kalau kita bandingkan, di tingkat sarjana. Seorang kelulusan universitas Indonesia yang ternama pun, ketika mendapatkan pekerjaan, akan kesusahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi untuk punya tabungan. Gaji yang diterima pekerja baru di sebuah perusahaan minyak misalnya, bisa berkisar 8-10 juta, dan beruntunglah mereka dibanding teman-temannya yang bekerja di bank dengan gaji 2 juta. Sedangkan lulusan teknik petroleum di Amerika, bisa dibayar 90,000 US dollar per tahun, yang sangat lebih dari cukup untuk hidup di sana sehingga bisa mulai menyicil untuk rumah.
Namun budaya emigrasi ini bukan salah siapa-siapa. Dari sejak zaman purba pun dikenal istilah "nomadik" bagi kelompok yang tinggalnya selalu berpindah-pindah. Bangsa keturunan Cina dan India juga sangat dikenal dengan kebiasaannya yang melanglang buana hingga akhirnya banyak kota-kota besar di dunia yang mempunyai China Town dan Little India. Singapura pun yang kita lihat negara yang enak untuk ditinggali, menghadapi permasalahan besar dengan warganya yang "kabur" menghindari sistem negara yang terkesan sedikit diktator, sampai-sampai mereka yang beremigrasi sering dicap sebagai "traitors", pengkhianat. Jadi budaya ini tidak terbatas ke isu bahwa negara yang ditempati kurang berpotensi atau tidak nyaman. Tapi ada peran kecondongan manusia untuk selalu mencari yang lebih baik, berpetualang, melihat dunia, dan tidak puas dengan apa yang dimiliki di negara sendiri.
Lepas dari itu, mempunyai orang-orang Indonesia di luar negeri membawa keuntungan yang sebenarnya cukup besar. Orang-orang inilah ambassador gratis bangsa kita. Di saat turis international tidak datang ke Indonesia, mereka membawa Indonesia ke dunia. Percakapan sehari-hari dengan teman sekelas dan teman kerja menjadi kesempatan emas untuk menetralisir pemberitaan tentang Indonesia di dunia yang seringnya berkisar tentang bencana alam, atau topik tidak penting yang tiba-tiba trending di twitter, seperti Tifatul yang menjabat Michelle Obama. Merekalah "point of contact" yang nyata bagi dunia yang langsung bisa berkata, "If you would like to donate to Indonesia, we could assist." dan "Don't worry about Tifatul, he does and says the most ridiculous things. Giving him a ministerial position is a mistake." Dan sadarkah kita betapa banyaknya produk Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Di Amerika, setiap Asian market, pasti punya kecap manis ABC. Dan tentunya, Indomie sudah bersebaran di mana-mana, bukan hanya untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia, tapi juga oleh orang-orang Amerika yang menyadari keajaiban enaknya Indomie. Sebagai contoh, lihat saja video di ini
Pertanyaan yang sering terdengar selanjutnya, akan kah mereka-mereka ini kembali ke Indonesia dan membangun bangsa? Saya rasa jawabannya: tidak penting mau kembali atau tidak, kalau memang ada niat untuk membangun bangsa, niatan itu dapat dilaksanakan dari mana saja dan dalam bentuk yang berbeda-beda. Tetapi, ada sebuah trend yang diamati oleh Sarah Lacy (http://www.sarahlacy.com/sarahlacy/indonesia/), pengamat bisnis di negara berkembang dan senior editor dari Techcruch.com bahwa banyak dari pelajar Indonesia di Amerika yang kembali ke Indonesia, kebanyakan untuk melanjutkan bisnis orang tuanya. Dan tentunya banyak alasan lainnya mengapa mereka kembali.
While it’s all but impossible for Indians to get granted US student visas these days, Indonesians get approved at a rate north of 85%, according to the Embassy folks I traveled with for the last two weeks. “It’s amazing,” I was told. “They just never overstay.”
Mungkin ini lah kekuatan seni kekeluargaan dan gotong royong kita, yang akhirnya membuahkan hasil: bahwa selalu ada rasa ingin kembali ke Indonesia. Ini juga terlihat dari pesawat yang selalu berjubel dipenuhi oleh TKI yang mudik dari Arab atau Malaysia ketika lebaran tiba.
Maka saya rasa tidak perlu kita kuatir terkena imbas "brain drain". Sudah rahasia umum pula kalau masyarakat Indonesia di luar negeri rajin ngumpul dan ngaso dengan sesama Indonesia. Rasa kangen terhadap rumah digantikan dengan pergaulan sesama anak bangsa yang tidak lagi melihat kamu dari daerah mana atau keturunan dan beragama apa. Karena di luar negeri, semua detail terhapus dan terganti cukup dengan "Saya orang Indonesia". Kalau pun ada yang tidak kembali atau tidak berbuat apa-apa sama sekali bagi negara, ke-Indonesiaan itu bukanlah sesuatu yang gampang untuk dihapus. Dan inilah yang kita tebar seperti biji dandelion ke mana-mana.
Biar lah orang Indonesia bebas mengarungi dunia. Bukankah nenek moyang kita seorang pelaut? Lagipula tidak akan pernah ada baik daratan atau lautan yang cukup luas untuk manusia. Itulah sebabnya kita berekspedisi ke bulan dan planet tetangga, untuk mengintip ada apa sebenarnya di sana, untuk mencicip apakah ada kehidupan yang lebih baik.
***
Tuesday, July 12, 2011
Pahlawan Tanpa Tanda-Tanda
Saya punya teman, yang sewaktu kecil, sangat iri dengan adiknya. Sebuah fenomena yang tidak jarang ditemukan di anak-anak yang baru saja mempunyai adik bayi, karena mereka merasa tidak diperhatikan sepenuhnya lagi, dan segalanya tiba-tiba harus dibagi. Dibagi rata, kebanyakan, meskipun sebagai kakak porsi dahaganya mungkin lebih besar. Saking jengkelnya, suatu hari, dia menjepit hidung adiknya berharap adiknya berhenti bernafas. Untuuuung saja tidak terjadi sesuatu yang fatal. Akhir dari kejadian itu tidak saya dapatkan. Mungkin orang tuanya datang menolong, atau dia masih terlalu bodoh untuk mengerti bahwa manusia mampu menghirup lewat mulut. “Sibling rivalry”, itu lah yang sering kita dengar. Tapi sesungguhnya “rivalry” jenis ini lah yang menurut saya sebuah cinta berbentuk unik, sangat berbeda dari gaya cinta lainnya, dan sesuatu yang jarang kita hargai.
Ingatkah kita apa yang Darwin katakan di teorinya? Dia bilang species-species yang bertahan hidup adalah mereka yang paling mencocokkan diri dengan keadaannya. Istilah kerennya “survival of the fittest,” bukan yang paling kuat, paling besar, atau paling pintar. Bahkan, bukan pula yang sudah paling lama merajai dunia. Oleh karena itu, ketika seorang adik dilahirkan, terpaksalah si kakak beradaptasi. Bayangkan kalau dia tetap memaksa merasa dirinya anak tunggal, yang ada pasti dia kena marah dan hukuman terus atas keegoisannya. Si adik pun, sadar tidak sadar, harus tau bahwa dari detik dia dilahirkan, sudah ada predator yang siap mengganggu ketenangannya sehingga dia harus pintar-pintar menjaga diri. Survival of the fittest ini lah pelajaran paling penting di dunia, yang ternyata tidak dapat diajarkan oleh orang tua, karena mereka terlalu lembut sama kita, atau pun ibu guru, karena mereka lebih mementingkan matematika. Tapi seorang saudara, memberikan itu secara cuma-cuma. Si adik yang dipencet hidungnya, harus menyadari bahwa terkadang, udara pun bisa mahal harganya.
Lepas dari segala pertengkaran berebut mainan, buku, remote TV, dan perhatian, saya sebagai adik harus mengakui bahwa saya memandang tinggi kakak saya. Kebiasaan dari kebanyakan adik-adik adalah mengikuti. Kalau si kakak suka trend A, seketika trend A itu terlihat sangat keren. Kalau dia senang menggambar, adiknya pun ikut corat-coret. Kalau dia bersikukuh minta dibeliin buah kesemek, adiknya juga jadi pengen makan buah kesemek, walaupun tidak tau apa itu sebenarnya. Secara naluri, itulah yang adik-adik lakukan. Kenapa? Selain karena ga mau kalahan dan juga just for the sake of being annoying, menurut saya inilah teknik survival dasar yang kedua yaitu “the trodden path is the safest”. Jalan yang sudah sering dilalui menunjukkan bahwa jalan itulah yang teraman. Sehingga dengan gampangnya adik-adik berjalan di setapak yang ilalangnya sudah ditebangi oleh kakaknya, makan segala yang sudah dipastikan tidak beracun oleh kakaknya, dan mencoba hal-hal yang menyerempet bahaya tapi tidak membunuh, seperti apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya. Dan di saat-saat kepepet dan tertangkap basah oleh orang dewasa kita sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, dengan cerdiknya kita bisa mengeluarkan senjata terampuh: “Tapi… tapi… tadi si kakak duluan yang kaya gitu…” (tampang memelas, mata berkedip-kedip are highly recommended).
Dan pada suatu saat yang berbahagia, akan sadarlah si adik kecil ini bahwa walaupun selama ini dia sudah berhasil melalui semuanya dengan aman, dia harus mengganti strategi hidupnya. Ini disebabkan karena pada akhirnya, dia menyadari bahwa tinggal di bawah bayangan itu sangat SANGAT berbahaya. Di Discovery Channel, ada program yang judulnya Dual Survival. Berulangkali mereka tegaskan, salah satu hal yang paling penting untuk dimiliki ketika menunggu untuk ditemukan tim SAR adalah api. Dengan api kita bisa masak daging dan membunuh kuman-kuman di air kotor, dengan api tubuh kita dihangatkan dari dinginnya malam dan dengan api kita bisa memberi sinyal penyelamatan. Perlu diketahui, di bawah bayang-bayang, kita tidak bisa memusatkan sinar matahari untuk membuat api!! Mungkin pertamanya susah untuk menyadari hal ini. Tapi lalu tanda-tanda pertama biasanya datang ketika kita merasakan bahwa meniru jalan si kakak ternyata tidak membawa kebahagiaan. Misalnya dulu saya dan kakak sama-sama dilesin piano. Dia, waktu senggangnya dipakai buat main-mainin piano sambil menikmati dan goyang-goyang badan. Kalau saya, bisa macet di satu lagu berminggu-minggu, dan boro-boro goyang badan, senyum aja males. Lalu tanda-tanda yang kedua biasanya datang ketika SMP, terutama kalau satu sekolah dengan si kakak. Kadang ada guru-guru yang bisa saja berkomentar iseng, “Wah, kok kakaknya gitu, adeknya begini…”. Atau tiba-tiba anak angkatan si kakaknya datang mendekati, “Oooh, jadi ini nih adeknya si A…Yuk, kita mapras!” Mampus!!! Dan akhirnya kenyataan itu datang juga, bahwa mengikuti hanya membawa kita ke keberhasilan yang terbatas (seperti China yang banyak menjiplak barang-barang atau Google+). Untuk sukses, kita harus berbeda, harus unik, dan sialnya harus menebang ilalang sendiri.
Dari masa SMA ke kuliah dan lebih dari itu, sepertinya masa-masa berantem hebat sudah selesai. Mudah-mudahan yang tertinggal hanya kenangan-kenangan baik yang bagus atau yang buruk, yang semuanya bisa ditertawakan. Dan yang terfilter dari semua itu adalah percakapan dan komentar-komentar jujur yang kalau diucapkan orang lain, mungkin membuat orang itu langsung masuk dalam daftar blacklist kita. Tapi berhubung yang mengatakan adalah saudara, kita bisa yakin bahwa se jleb jleb jleb apa pun yang dia katakan, ada cinta dibalik itu, dan ada gunanya buat kita. Sama seperti kejadian dulu-dulu, ketika bergulat dengannya membuat kita lebih kuat dan dikibuli olehnya membuat kita lebih berhati-hati. Tidak ada hari khusus untuk seorang kakak, tidak ada lagu, kartu, dan tepuk tangan. Di dunia ini, menurut saya mereka lah the most unsung and unexpected heroes. Pahlawan tanpa tanda-tanda. Yang membawa tameng, untuk melindungi sekaligus menjitak adiknya. Yang tanpa disadari, mengajarkan cara-cara bertahan hidup: beradaptasi, bersaing, bertaktik, dan mengetahui kapan harus mengikuti dan kapan harus berdiri sendiri. Makhluk yang aneh.
Monday, July 11, 2011
Would fireworks fly
Woud angels sing with lollipops
Would dinosaurs cry
Would babies all gurgle in laughter and surprise
If I kissed you
If I kissed you
What would Michaelangelo say
Would he still have sculpted David
Would we be immortalized in clay
Would the poets write of love like ours
Would John Donne have his say
If I kissed you
You could be one in a million
You could be the one for me
But l guess I'll never know if I never try
I guess I'll just have to grab you in my arms and kiss you
If I kissed you
Would you lose track of time
Would you feel a surge of happiness
Running up your spine
Would you run naked in the street
with a tattoo of my name on your behind
If I kissed you
Oh, if I kissed you
Yeah, if I kissed you