Monday, January 24, 2011
Sub-zero
Wednesday, January 19, 2011
Pop Quiz
Thursday, January 13, 2011
Sunday, January 09, 2011
Anak 90-an
Friday, January 07, 2011
Snow in My Cocoa
Wednesday, January 05, 2011
In a Digital World
Tuesday, January 04, 2011
Learning Gratification
Send some rain, would You send some rain?
'Cause the earth is dry and needs to drink again
And the sun is high and we are sinking in the shade
Would You send a cloud, thunder long and loud?
Let the sky grow black and send some mercy down
Surely You can see that we are thirsty and afraid
But maybe not, not today
Maybe You'll provide in other ways
And if that's the case . . .
We'll give thanks to You
With gratitude
For lessons learned in how to thirst for You
How to bless the very sun that warms our face
If You never send us rain
Daily bread, give us daily bread
Bless our bodies, keep our children fed
Fill our cups, then fill them up again tonight
Wrap us up and warm us through
Tucked away beneath our sturdy roofs
Let us slumber safe from danger's view this time
Or maybe not, not today
Maybe You'll provide in other ways
And if that's the case . . .
We'll give thanks to You
With gratitude
A lesson learned to hunger after You
That a starry sky offers a better view if no roof is overhead
And if we never taste that bread
Oh, the differences that often are between
What we want and what we really need
So grant us peace, Jesus, grant us peace
Move our hearts to hear a single beat
Between alibis and enemies tonight
Or maybe not, not today
Peace might be another world away
And if that's the case . . .
We'll give thanks to You
With gratitude
For lessons learned in how to trust in You
That we are blessed beyond what we could ever dream
In abundance or in need
And if You never grant us peace
But Jesus, would You please . .
Monday, January 03, 2011
Flipped
Waktu itu saya berasa, wah kok si cewe anonimus tidak rasional. Apa susahnya bilang aja jujur-jujur. Kalo emang si cowo ga bisa terima perasaannya dia yang jujur, dan ga bisa berubah juga, ya udah berarti mereka ga cocok. Dan kalo mereka emang ga cocok, bagus lah decide untuk putus sekarang daripada nanti nikah dan masih menyembunyikan perasaan atau hal lainnya.Sodara-sodara, kalau saat ini saya punya time machine dan bisa kembali ke masa itu, saya akan pergi ke dapur mengambil panci, pergi naik time machine menemui saya versi culun, dan menggetok kepala si culun pake panci. Because now I agree, it IS more complicated than what I thought.
Teman cewe yang saya kenal ini anaknya sangat mandiri, pinter, rajin, sedikit keras dalam berpendapat, istilahnya didahinya tercap tulisan: you can't mess with me. Untuk karakternya yang tegas, saya kasih dua jempol. Tidak heran waktu itu saya tidak mengerti kenapa kok dia ga bisa berkarakter seperti itu di depan cowonya. Tapi belakangan ini saya pelan-pelan tau jawabannya, karena saya juga merasakan. Sekeras apa pun cewe, dia bisa menjadi "lemah" di hadapan orang yang dicintainya. Mungkin bisa jadi, dengan cinta, datang rasa menghargai dan hormat. Sehingga semua argumen yang sudah disusun dan disimpan rapi untuk amunisi tiba-tiba tidak jadi dikeluarkan. Yang keluar cuma tangisan cengeng ala sinetron India. Ada juga rasa tidak ingin melukai perasaan orang yang kita sayang. Atau kadang-kadang, perasaan kita terjawab dengan alasan-alasan logis si cowok, sehingga sulit untuk menjelaskan apa yang dirasakan. Tapi, saya menggetok si culun bukan karena apa yang dia katakan salah. Tidak salah untuk berkomunikasi jujur, justru memang benar harus begitu. Saya getok dia karena dia tidak peka, tidak mengerti perasaan temannya, dan semestinya mendengar dulu sebelum berpendapat. Mungkin kata-kata yang keluar lebih berkenan dan justru mengena.
Ada seorang teman lain sebut saja Miss Future Minister of Finance atau Miss FMF. Di saat masa depannya gemilang karena dia berhasil secara akademis, kerjaan, perencanaan hidup, dan karakter yang juga patut diacungi jempol, dia belum mendapat jodoh. Bukan karena apa-apa, sebab dia cantik dan menarik, tapi karena yang namanya belum, ya belum. Tapi entah kenapa, dari cerita-ceritanya cowo-cowo yang pernah dipacarinya dulu tidak bertahan lama, tidak lebih dari hitungan bulan. Dan putusnya pun kurang mengenakkan karena beberapa dari mereka berselingkuh. Pertanyaannya adalah, kenapa Miss FMF dengan watak dan otaknya yang cerdas bisa berpacaran sekaligus dibohongi oleh cowo-cowo tak bertanggung jawab itu? Kenapa dengan kemampuannya untuk menganalisa ekonomi negara, keadaan sosial politik, dan menulis serta berbicara dengan kritis dia tidak berhasil menganalisa pasangannya? Tentu bukan karena dia bodoh. Cowo-cowo itu yang bodoh!!! Ups sori, kebawa emosi. Maksudnya, kayanya cowo-cowo itu rada minder dan keder dengan kemandirian Miss FMF. Tapi, intinya, itulah cewek. Kadang-kadang kami meletakkan kepercayaan dan respect berlebih pada orang yang dicintai. Dan cinta itu ga bisa dianalisa kaya ekonomi, pake prediksi nilai uang di masa depan, atau trend ekonomi yang dilihat dengan regresi linear.
Saya pun jadi ingat dengan filem judulnya "Flipped" yang baru saja ditonton, pertama kali di dalam pesawat, dan kedua kali di rumah temen yang kesenengan dapet filem bagus. Ceritanya, ada anak perempuan yang bertemu tetangga barunya, seorang anak laki-laki, waktu mereka kelas 2 SD. Dari saat pertama, si anak perempuan langsung jatuh cinta disebabkan oleh mata si anak lelaki yang biru, dalam, dan menawan hati. Si anak perempuan ini pintar dan berani, dia menang science fair, dan sukanya memanjat pohon sycamore dan membela mati-matian ketika pohon tersebut hendak ditebang. Tapi, lagi-lagi sampai kelas 6 SD si anak perempuan ini masih terus cinta kepada anak lelaki, meskipun dia sudah disakiti berulang kali, dan memang lama-lama dia meragukan keafdolan si cowok. Padahal menurut saya si cowonya engga banget deh, meskipun memang rada cakep. Ya itu lah, achilles heel nya kami kaum cewek. Kami memang didesign untuk menjadi support systemnya cowok. Jadi, kalau berhadapan dengan seseorang yang dicintai, secara alami seorang cewe akan mensupport, kadang-kadang tanpa perhitungan, tidak peduli si cewe sepintar dan seberani apa. Tidak masuk akal memang.
Saya sendiri pertama kali nangis gara-gara cowok sekitar pertengahan tahun 2009. Dan ga enak rasanya. Nangis saya ada dua versi. Kalau muka saya tidak jelek, artinya saya tidak nangis dari hati yang paling dalam. Seperti ketika saya menangisi kisah-kisah hidup orang yang rumah bobroknya disulap jadi mewah di "Extreme Home Makeover," atau menangisi kelelahan fisik dan mental sebagai pelajar di ujung semester, contohnya. Jenis yang kedua adalah yang membuat mata saya merah, hidung saya makin bulat membengkak, dan membuat lengan baju, handuk, serta sarung bantal penuh dengan ingus. Ini dia nangis top markotop sepenuh jiwa raga. Dan waktu itu saya nangis kaya gitu: top markotop. Tapi, setelah jadian ini, saya pun lebih mengenal apa itu cinta, dalam banyak konteks yang berbeda. Saya jadi tau sebagai cewe, rasanya kaya apa kalau berasa ditinggal atau dikecewain. Saya jadi harus belajar gimana caranya memaafkan lalu melupakan, sehingga yang sudah selesai tidak diungkit lagi. Jadi tau juga rasanya dimaafkan atas segala kengeyelan, kemanjaan, dan kemarahan saya. Jadi belajar juga cara pandang cowo seperti apa, mencoba mengerti mereka meskipun terkadang masi tidak mengerti juga.
Secara general, menurut saya, begitu lah cewe, banyak titik lemahnya dihadapan si cinta. Meskipun begitu, jangan kuatir para wanita, kaumku tersayang (ciaelah..), karena begitu pula lah cowok, juga banyak titik lemahnya (yesh! High five!). Kalau tidak begitu cinta tidak ada artinya, karena mencintai di saat senang itu gampang, cinta tanpa melalui kecewa bukanlah cinta yang teruji. Makanya meskipun begitu, yang saya pelajari, cinta itu indah, merasuki dan membangkitkan, menyakitkan tapi menyelamatkan, pengorbanan ke kebahagiaan. Cinta itu mukjizat, hujan waktu kemarau, berlian di tanah budak, Jakarta tanpa macet. Saya lebih bisa mengerti kenapa Yesus menomorsatukan cinta dibanding beribu ajaran lainnya. Karena cinta itu permainan hati. Bersih, tulus, ga pake embel-embel. Dan hati tidak berbohong. Dan tangisan versi dua saya waktu itu adalah perjalanan menuju cinta yang lebih besar.
Selamat hari Senin semuanya!
