Pages

Monday, January 24, 2011

Sub-zero

First day of school again. Somehow wasn't too exciting since I've been here since around new years anyways, so it wasn't like it's a start of something completely different. First days could be rough for some. Forcing yourself to wake up earlier for classes, whipping your lazy bum out of bed, and finding that spark that would hopefully get you through lectures. But, today is special, the morning was different. It was expected, but still surprising somehow. We all, the citizen of Ithaca, woke up to a -15 F. I'm not big on using Fahreinheit, I don't think I'll be, ever. My gage is that 32 F is zero Celcius, below that would just read to me as freaking cold. So, for precision, I went to my good friend Google and checked that -15 F is actually -26.7 C. To put things to perspective, freezer temperature is about -5 to -10 C. And I actually felt different breathing, like I couldn't suck in more air. And, I'm not kidding, I could feel my nose hair froze, or maybe it's they tiny boogers that did.

So good job everyone for actually waking up and brave the weather today!

Wednesday, January 19, 2011

Pop Quiz

Setelah ketemuan dengan seorang professor untuk mempersiapkan presentasi pagi ini, kita ngobrol-ngobrol sebentar. Dia memang pernah cerita kalau istrinya akan pergi ke Indo karena ada projek kerja sama mengenai global warming (yang sebenernya saaya pengen ikutan dan udah drops hints, tapi ga ditanggep-tanggep.. hehe..). Terus dia bilang kalau istrinya dia tanya, saya dari mana di Indonesianya. Ya, saya bilang, lahirnya di Jakarta, tapi besarnya di Riau. Lalu, dia berbalik ke layar komputernya dan mencari di google image petanya Indonesia.

Saya: Jadi ini Jakarta, terus kalau Riau di sini, bagian Indonesia yang paling deket sama Singapur (sambil nunjuk-nunjuk).

Dia: Oh, saya ga pernah liat Jakarta ternyata ditulisnya kaya gini (tertulis: Djakarta).

Saya: Iya, itu sebenernya ejaan lama, sekarang udah ga kaya gitu, pake J aja.

Dia: Indonesia kan negara yang populasinya paling banyak ke-4 di dunia yah.

Saya: Iya (padahal ragu-ragu juga).

Dia: Tapi kalau di lihat-lihat, areanya ga gitu gede ya di sini. Kalau dijumlah-jumlah kan, dibandingin sama Papua New Guinea, berapa kali areanya tu?

Saya: Lumayan gede. Lebarnya aja selebar USA. Tapi daratannya ya lebih kecil. Kalo pulau Papuanya sendiri kan dibagi dua, yang kiri Indonesia, yang kanan baru Papua New Guinea.

Dia: Oh, jadi semua ini Indonesia ya. (Dia baru sadar kalo dari Sulawesi ke kanan itu juga termasuk negara bagian kita). Tapi tetep aja, banyak juga populasinya, kok bisa ya.
Berapa tuh jumlah warga negaranya?

Saya: Sekarang sih 230 juta.

Dia: Lalu, luasnya brapa?

Saya: Hmm.. brapa ya... ga terlalu tau... Tapi kebanyakan penduduknya cuma di pulau Jawa aja sebenernya.

Dia: Sampai 50% nya?

Saya: Hmm.. mungkin 40% kali yah.

Dia: Wah kalau begitu, populasi di Jawa berarti hampir sama dengan populasi orang di Russia ya.

Saya: Oh ya? (Takjub sendiri)

Lalu kita pun meng-google populasi Jawa dan Russia yang memang ternyata cuma beda 5 juta orang. Dan tambahan lagi, ternyata populasinya Jawa itu 60% dari populasi Indonesia.

Dia: Jadi misalnya di Irian sini, berapa tu penduduknya?

Saya: Errr... saya tidak tau ada berapa orang di sana.... ( tidak pernah terpikir sekalipun akan ada orang yang tanya ke saya berapa jumlah populasi Irian Jaya. Jawaban yang betul: 1 juta saja)

Dia: Lalu yang ini Brunei Darusallam... (menunjuk bagian atas Kalimantan)

Saya: Bukan, itu masi Malaysia, Brunei cuma bagian kecilnya aja di sini.

Dia: Hm, bagaimana kalian menentukan daerah perbatasannya ini?

Saya: Waduh tidak tau juga.. (dan masih ga tau sampe sekarang)

Dia: Kalau yang menanam padi, biasanya di daerah mana?

Saya: Kebanyakan di pulau Jawa, tapi di daerah-daerah lain juga menanam. (Padahal saya juga kurang tau di daerah mana, kok kayanya kalo di Sumatra ga gitu kelihatan.
Tapi kalau kebanyak di pulau Jawa, dengan populasi padat seperti itu harusnya
juga ga terlalu banyak lahan sawah lagi.. saya pun sedikit bingung..)

Dia: Dan makanan pokoknya orang Indonesia apa?

Saya: Nasi

Dia: Kalau begitu, kalian pasti banyak impor beras, kalau engga gimana caranya memberi makan orang sebanyak itu.

Saya: Iya, kita mengimpor, dari Thailand, Vietnam, China. (Dang, knapa si kita ngimpor beras??)

Dia: Tapi kalian juga banyak kekayaannya alamnya, pasti juga banyak meng-ekspor.

Saya: Iya banyak juga.

Dia: Kalau yang mengembangkan kelapa sawit itu bagian mana?

Saya: Bagian Kalimantan dan Sumatra yang biasanya banyak.

Dia: Kalimantannya bagian mana, bawah ya, soalnya ini dari petanya daerah lain banyak pegunungan.

Saya: Sebenarnya bagian Barat dan Tengah yang lebih banyak (lalu berpikir dalam hati, iya juga ya, di bagian situ justru topografinya lebih berlereng-lereng).

Dia: Nah, kalau Bali di mana?

Saya: Tuh. (menunjukkan Bali)

Dia: Kalau Timor, itu isunya apa sih. Diperebutkan ya daerahnya.

Saya: Oh, sekarang sudah merdeka, mereka sudah jadi negara sendiri.

Dia: Saya dengar ada kelompok pemberontaknya di sana, seperti Tamil Tigers gitu. Apa ya namanya mereka.

Saya: Ehmm... Fretilin bukan?

Dia: Wah, ga bisa ingat sekarang. Tapi dulu saya baca Australia juga menurunkan pasukannya ke sana untuk membantu menenangkan. Ini kok ada batas internasionalnya di
tengah-tengah pulaunya?

Saya: Oh, iya cuma yang bagian Timur aja yang merdeka. Bagian Baratnya masih punya Indonesia. (Saya juga baru diingatkan lagi, bahwa tidak seluruh pulau merdeka. Dan ternyata Timur Barat itu bagian dari provinsi NTT).

Dia: Wah menarik, jadi belajar banyak tentang Indo hari ini.

Saya dalam hati: Info-info yang gw kasi bener ga si, jangan-jangan menyesatkan.

Hehehe...Saya jadi merasa, kok banyak basic questions yang saya ga bisa jawab yah? Kok sedikit memalukan??? Padahal minggu sebelumnya saya sok-sok sopan bilang ke dia, kalau istrimu mau ketemu buat ngobrol2 sebelum dia cabut, I'd be happy to (well, setengahnya karena saya juga penasaran pengen tau projeknya itu ngapain sih.. hehe). Tapi lepas dari itu mendengar pertanyaan dari "orang luar" membuat padangan saya yang selama ini biasa-biasa saja, jadi ikut terusik karena keheranan dia. Dan saya pun disadarkan, ternyata Jawa itu separah itu jumlah populasinya. Ternyata Indo itu bener-bener tidak tersebar sumber daya manusianya. Padahal selama ini kalo di Jakarta/Jawa, dan balik ke Riau, ga gitu berasa. Ya memang terasa lebih padat di Jawa, tapi ga se-ekstrim itu lah.

Kenapa saya jarang lihat sawah padi di luar Jawa? Kenapa kelapa sawit kita justru ditanam di daerah yang lebih berpegunungan? Kenapa Timor Timur berontak tapi tidak Timor Barat? Kenapa dari sekian banyak pulau cuma Bali yang sukses dibangun pariwisatanya? Kenapa perbatasan Indo-Malaysia kriwil-kriwil ga jelas, tapi perbatasan Indo-Papua New Guinea lurus kaya pake penggaris? Kenapa si Ariel dihukum lebih berat daripada orang yang menyebar filenya dia? Kenapa saya ga bisa jawab semua ini?? Kenapa??? Kenapa???

Sunday, January 09, 2011

Anak 90-an

Udah 2 hari ini, ga tau kenapa lagunya Sherina jadi terngiang-ngiang di kepala saya. Gak keseluruhan lagunya, tapi cuma 1 bagian kecil yang berkata "bahagiakan mereka sepertiku". Saya sebenernya juga udah lupa lagunya yang mana, sehingga mesti cari-cari lagi di youtube. Ternyata judulnya "Andai Aku Telah Dewasa", jadul abis video klipnya. Saya punya tuh kasetnya, jaman-jaman awal SMP, di mana kalau mau rewind atau ngulang-ngulang lagu yang disuka, mesti tunggu stereo tape SONY kesayangan buat muter balik pitanya. Sherinanya sendiri sekarang sudah mau masuk kuliah, sudah tau pacaran sekaligus putus, sudah semampai badannya tanpa terlihat sisa-sisa baby fats-nya lagi. Dan saya juga sudah berubah meninggalkan jaman itu, meskipun berbeda dengan Sherina, baby fats saya ternyata tidak hilang-hilang. Tapi, bagi anak tahun 90-an, Sherina sedikit banyak membentuk pemikiran kita, membangun imajinasi dan gaya hidup, menyediakan wahana yang menyenangkan untuk bertumbuh.

Tentunya bukan hanya Sherina, tapi juga sekomplotannya seperti Joshua, Cikita Meidy, Maissy, Agnes Monica, Kak Rian Enes dan Susan, Si Komo, Si Unyil, Trio Kwek Kwek, Bondan Prakoso, Papa T. Bob, Cindy Cenora, Tina Toon, Tasya, dan lain-lain. Ngomong-ngomong, si Maissy jadi cakep lo sekarang. Sangat banyak pilihan lagu-lagu dan acara di TV untuk anak-anak yang bermutu dan saling bersaing. Dulu acara kesukaan saya adalah Anak Seribu Pulau dan Pesta Ceria Indosiar, meskipun saya pernah ilfil sekali waktu pas nonton Pesta Ceria dan lihat Kiki tampil membawakan lagunya "Berhitung". Sepertinya harusnya dia lipsync sambil bergaya-gaya atau apalah, tapi yang terjadi adalah dia duduk di tangga sambil bermain, sementara lagunya diputar menjadi background. Yah, dimaafkan lah, waktu itu mungkin dia masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa salah satu tanggung jawabnya sebagai penyanyi itu adalah bernyanyi ketika di panggung.

Kalau jaman sekarang, mungkin sudah hampir ga ada entertainment sejenis itu untuk anak-anak. Yang saya tau, ada Si Bolang Bocah Petualang, yang konsepnya mirip-mirip sama Anak Seribu Pulau. Sempat ada Gita Gutawa diujung masa kanak-kanaknya yang menyegarkan dunia televisi dengan lagunya yang "bersih" dan menyenangkan. Tapi dia pun sekarang sudah memasuki umur remaja dan tema lagunya sudah berubah. Jadi saya juga bingung, anak-anak jaman sekarang, nontonnya apa ya? Kemungkinan mereka banyak dapat influence dari tokoh-tokoh Disney atau Pixar, seperti Cars dan Toy story. Tapi dilihat-lihat, engga juga ya, rasanya filem-filem seperti itu ga terlalu nge-boom seperti di sini, biasa saja. Terus terang saya sedikit kuatir dengan pertelevisian yang tidak memadai untuk adik-adik kita. Memang ketika bukan jam malam, tidak ada cewe2 seksi yang membawa acara kuiz lewat telpon sambil memamerkan tubuhnya yang setengah terbuka. Tapi, censorship kan bukan hanya itu doang. Apa generasi muda kita harus lepas dari budaya menggosip? Iya, mudah-mudahan. Apa mereka harus bersih dari humor kasar dan main dorong-dorongan (meskipun jokenya memang lucu dan dorong2annya hanya ke properti dari gabus)? Iya, kalo bisa. Apa mereka mesti mengerti bagaimana menjalin hubungan dengan lawan jenis dengan baik dan setia ketika sudah besar nanti? I hope so. Lalu, bagaimana mereka bisa begitu kalau acara di TV penuh dengan infotainment, lawak jenis OVJ, dan sinetron percintaan?

Dulu sepupu saya pernah nangis-nangis gara2 saya kasi tau kalau acara kesukaannya Sarah 007 baru saja habis. Mungkin jauh lebih bagus mendengar tangisan anak-anak Indonesia yang ketinggalan acara favoritnya, daripada puas dengan anak-anak anteng yang menonton Jupe dan Dewi Persik cakar-cakaran di siang bolong. Saya jadi bener-bener penasaran, sekarang anak-anak itu nontonnya apaan si? Atau justru ga nonton TV sekalian?

Just something to ponder on this Monday.

Friday, January 07, 2011

Snow in My Cocoa


It will snow for a week straight, according to the forecast. But, I'm not complaining. I kind of like staring at white fluffy stuff floating in the air. And so far, this year (which feels like it's been a while but it's only 7 days!), I've been good keeping up with little joys, that though seemingly insignificant, bring a lot of peace to mind. Like today, for example, I finally completed 9 stamps from Collegetown Bagel signifying I've bought 9 cups of coffee and thus am entitled for a free one on my next purchase. Free coffee would definitely break a bad day, when I have one in the future. Free stuff always does that to me. There was one day when I decided to treat myself to a good book and a cupcake. I was staying in the store, just reading, until the cupcake shop almost closed. And the waitress came by to tell me they are giving the remaining cakes for free, so I got four red velvet cupcakes which made me real happy for quite some time. So, either I appreciate little things that come my way, or I'm just simply cheap!

Have a fulfilling Friday, all!

Wednesday, January 05, 2011

In a Digital World

I know, I know, Christmas is over, we'll have to wait another year. And this is too late for all the merriment, but it's too good to wait.



"A life? Cool! Where can I download one of those?"

Have a great Wednesday!

Tuesday, January 04, 2011

Learning Gratification

In my google chat today,

Me: I envy you.
My friend J: Why? I envy you.
Me: Why?

Me and J:??

Lesson for today: be in gratitude, you've had enough, you've had you portion :)


Send some rain, would You send some rain?
'Cause the earth is dry and needs to drink again
And the sun is high and we are sinking in the shade
Would You send a cloud, thunder long and loud?
Let the sky grow black and send some mercy down
Surely You can see that we are thirsty and afraid
But maybe not, not today
Maybe You'll provide in other ways
And if that's the case . . .

We'll give thanks to You
With gratitude
For lessons learned in how to thirst for You
How to bless the very sun that warms our face
If You never send us rain

Daily bread, give us daily bread
Bless our bodies, keep our children fed
Fill our cups, then fill them up again tonight
Wrap us up and warm us through
Tucked away beneath our sturdy roofs
Let us slumber safe from danger's view this time
Or maybe not, not today
Maybe You'll provide in other ways
And if that's the case . . .

We'll give thanks to You
With gratitude
A lesson learned to hunger after You
That a starry sky offers a better view if no roof is overhead

And if we never taste that bread

Oh, the differences that often are between
What we want and what we really need

So grant us peace, Jesus, grant us peace
Move our hearts to hear a single beat
Between alibis and enemies tonight
Or maybe not, not today
Peace might be another world away
And if that's the case . . .

We'll give thanks to You
With gratitude
For lessons learned in how to trust in You
That we are blessed beyond what we could ever dream
In abundance or in need
And if You never grant us peace

But Jesus, would You please . .

Monday, January 03, 2011

Flipped

Sebelum jadian, pacaran itu di kepala saya sangat ideal. Satu, harus saling percaya. Dua, harus saling mendukung. Tiga, harus saling pengertian. Empat, komunikasi harus lancar. Terus sampe entah ke nomer berapa. Misalnya saya dicurhatin seorang cewe anonimus dan tidak bernama yang bilang kalau cowonya (long distance nih ceritanya) suka pergi sama cewe laen, tapi perginya selalu rame-rame si sama teman yang lain juga. Si cowonya ini kebetulan satu program sekolah sama itu cewe, jadi kalo ke kelas dan pergi ke kampus jadi sering bareng. Tambahan lagi, apartmentnya juga satu gedung. Alhasil lah emang sering mampir-mampir. Si cewe anonimus pun jadi sering mengungkit-ungkit hal ini, sering nangis, dan jengkel kalo lagi telpon dan tanya cowonya lagi bareng siapa, jawabannya ada nama itu cewe diantara sederetan nama lainnya. Ini kejadiannya dah rada lama, dan waktu itu, saya yang culun-culun ga ngerti pacaran, coba menenangkan si cewe anonimus. Ya elu mesti percaya lah sama dia, kan perginya juga selalu barengan yang lain, ga berdua doang. Kan dia juga jujur tuh, ga pernah bohongin kalo emang itu cewe lagi ada sama dia, berarti dia emang biasa-biasa aja dong. Lu ngerti juga lah kan ada perbedaan waktu, kalo lu di sini pagi, dia di sana kan weekend malem, emang lagi keluar-keluar main. Dan nasihat terakhir: lu mesti komunikasiin semuanya sama dia, cerita aja sama dia persis nih kaya yang lu bilang ke gw sekarang. Jadi kan dia lebih ngerti perasaan lu gimana. Dan jawaban si cewe anonimus ke saya: Ga segampang itu, Vid. Some feelings you just have to keep from your boyfriend. It's more complicated than what you think.

Waktu itu saya berasa, wah kok si cewe anonimus tidak rasional. Apa susahnya bilang aja jujur-jujur. Kalo emang si cowo ga bisa terima perasaannya dia yang jujur, dan ga bisa berubah juga, ya udah berarti mereka ga cocok. Dan kalo mereka emang ga cocok, bagus lah decide untuk putus sekarang daripada nanti nikah dan masih menyembunyikan perasaan atau hal lainnya.Sodara-sodara, kalau saat ini saya punya time machine dan bisa kembali ke masa itu, saya akan pergi ke dapur mengambil panci, pergi naik time machine menemui saya versi culun, dan menggetok kepala si culun pake panci. Because now I agree, it IS more complicated than what I thought.

Teman cewe yang saya kenal ini anaknya sangat mandiri, pinter, rajin, sedikit keras dalam berpendapat, istilahnya didahinya tercap tulisan: you can't mess with me. Untuk karakternya yang tegas, saya kasih dua jempol. Tidak heran waktu itu saya tidak mengerti kenapa kok dia ga bisa berkarakter seperti itu di depan cowonya. Tapi belakangan ini saya pelan-pelan tau jawabannya, karena saya juga merasakan. Sekeras apa pun cewe, dia bisa menjadi "lemah" di hadapan orang yang dicintainya. Mungkin bisa jadi, dengan cinta, datang rasa menghargai dan hormat. Sehingga semua argumen yang sudah disusun dan disimpan rapi untuk amunisi tiba-tiba tidak jadi dikeluarkan. Yang keluar cuma tangisan cengeng ala sinetron India. Ada juga rasa tidak ingin melukai perasaan orang yang kita sayang. Atau kadang-kadang, perasaan kita terjawab dengan alasan-alasan logis si cowok, sehingga sulit untuk menjelaskan apa yang dirasakan. Tapi, saya menggetok si culun bukan karena apa yang dia katakan salah. Tidak salah untuk berkomunikasi jujur, justru memang benar harus begitu. Saya getok dia karena dia tidak peka, tidak mengerti perasaan temannya, dan semestinya mendengar dulu sebelum berpendapat. Mungkin kata-kata yang keluar lebih berkenan dan justru mengena.

Ada seorang teman lain sebut saja Miss Future Minister of Finance atau Miss FMF. Di saat masa depannya gemilang karena dia berhasil secara akademis, kerjaan, perencanaan hidup, dan karakter yang juga patut diacungi jempol, dia belum mendapat jodoh. Bukan karena apa-apa, sebab dia cantik dan menarik, tapi karena yang namanya belum, ya belum. Tapi entah kenapa, dari cerita-ceritanya cowo-cowo yang pernah dipacarinya dulu tidak bertahan lama, tidak lebih dari hitungan bulan. Dan putusnya pun kurang mengenakkan karena beberapa dari mereka berselingkuh. Pertanyaannya adalah, kenapa Miss FMF dengan watak dan otaknya yang cerdas bisa berpacaran sekaligus dibohongi oleh cowo-cowo tak bertanggung jawab itu? Kenapa dengan kemampuannya untuk menganalisa ekonomi negara, keadaan sosial politik, dan menulis serta berbicara dengan kritis dia tidak berhasil menganalisa pasangannya? Tentu bukan karena dia bodoh. Cowo-cowo itu yang bodoh!!! Ups sori, kebawa emosi. Maksudnya, kayanya cowo-cowo itu rada minder dan keder dengan kemandirian Miss FMF. Tapi, intinya, itulah cewek. Kadang-kadang kami meletakkan kepercayaan dan respect berlebih pada orang yang dicintai. Dan cinta itu ga bisa dianalisa kaya ekonomi, pake prediksi nilai uang di masa depan, atau trend ekonomi yang dilihat dengan regresi linear.

Saya pun jadi ingat dengan filem judulnya "Flipped" yang baru saja ditonton, pertama kali di dalam pesawat, dan kedua kali di rumah temen yang kesenengan dapet filem bagus. Ceritanya, ada anak perempuan yang bertemu tetangga barunya, seorang anak laki-laki, waktu mereka kelas 2 SD. Dari saat pertama, si anak perempuan langsung jatuh cinta disebabkan oleh mata si anak lelaki yang biru, dalam, dan menawan hati. Si anak perempuan ini pintar dan berani, dia menang science fair, dan sukanya memanjat pohon sycamore dan membela mati-matian ketika pohon tersebut hendak ditebang. Tapi, lagi-lagi sampai kelas 6 SD si anak perempuan ini masih terus cinta kepada anak lelaki, meskipun dia sudah disakiti berulang kali, dan memang lama-lama dia meragukan keafdolan si cowok. Padahal menurut saya si cowonya engga banget deh, meskipun memang rada cakep. Ya itu lah, achilles heel nya kami kaum cewek. Kami memang didesign untuk menjadi support systemnya cowok. Jadi, kalau berhadapan dengan seseorang yang dicintai, secara alami seorang cewe akan mensupport, kadang-kadang tanpa perhitungan, tidak peduli si cewe sepintar dan seberani apa. Tidak masuk akal memang.

Saya sendiri pertama kali nangis gara-gara cowok sekitar pertengahan tahun 2009. Dan ga enak rasanya. Nangis saya ada dua versi. Kalau muka saya tidak jelek, artinya saya tidak nangis dari hati yang paling dalam. Seperti ketika saya menangisi kisah-kisah hidup orang yang rumah bobroknya disulap jadi mewah di "Extreme Home Makeover," atau menangisi kelelahan fisik dan mental sebagai pelajar di ujung semester, contohnya. Jenis yang kedua adalah yang membuat mata saya merah, hidung saya makin bulat membengkak, dan membuat lengan baju, handuk, serta sarung bantal penuh dengan ingus. Ini dia nangis top markotop sepenuh jiwa raga. Dan waktu itu saya nangis kaya gitu: top markotop. Tapi, setelah jadian ini, saya pun lebih mengenal apa itu cinta, dalam banyak konteks yang berbeda. Saya jadi tau sebagai cewe, rasanya kaya apa kalau berasa ditinggal atau dikecewain. Saya jadi harus belajar gimana caranya memaafkan lalu melupakan, sehingga yang sudah selesai tidak diungkit lagi. Jadi tau juga rasanya dimaafkan atas segala kengeyelan, kemanjaan, dan kemarahan saya. Jadi belajar juga cara pandang cowo seperti apa, mencoba mengerti mereka meskipun terkadang masi tidak mengerti juga.

Secara general, menurut saya, begitu lah cewe, banyak titik lemahnya dihadapan si cinta. Meskipun begitu, jangan kuatir para wanita, kaumku tersayang (ciaelah..), karena begitu pula lah cowok, juga banyak titik lemahnya (yesh! High five!). Kalau tidak begitu cinta tidak ada artinya, karena mencintai di saat senang itu gampang, cinta tanpa melalui kecewa bukanlah cinta yang teruji. Makanya meskipun begitu, yang saya pelajari, cinta itu indah, merasuki dan membangkitkan, menyakitkan tapi menyelamatkan, pengorbanan ke kebahagiaan. Cinta itu mukjizat, hujan waktu kemarau, berlian di tanah budak, Jakarta tanpa macet. Saya lebih bisa mengerti kenapa Yesus menomorsatukan cinta dibanding beribu ajaran lainnya. Karena cinta itu permainan hati. Bersih, tulus, ga pake embel-embel. Dan hati tidak berbohong. Dan tangisan versi dua saya waktu itu adalah perjalanan menuju cinta yang lebih besar.

Selamat hari Senin semuanya!

Sunday, January 02, 2011

Goodbye Raisin Cookie Land

I am changing the outlook of my blog (again). I hope my goofy face up there doesn't scare you. Basically, I just want to have a cleaner template and a more mature looking site. Remembering that I'm a year away to a quarter decade old (geez, I make myself sound like I'm dying), and because the new year is only a couple of days fresh, I think it's an appropriate time to make a little change in appearance. And I will try my best to do the same in reality.

Raisin Cookie Land has gracefully lend me its space for lots of ranting, sharing, and therapeutic writing. It's the place where I feel safe and at home, no matter where I am. It's the starting point to others' spaces or sites that I visit for a daily guilty pleasure. It was named rightfully because I run to it for comfort just like I did when I ran to Seattle's Best Coffee on campus for an oatmeal raisin cookie on a bad day (well, okay, on a good day, too).

Now that I no longer do that (no worries, I have other comfort food), I wanted to replace it with something else, and also something that is for goodness sake, not food related. And, man, it's always hard to think of a name. Branded by design came to my mind because I read a book recently that talked about how we (humans) are all wanted, created, designed, branded, and thus are special because of that. I actually read the book when I was quite sleepy, so I might have just created that interpretation, but what the heck, I like it :) So I guess, I wanted to change my own perspective about this blog: not a place that I run to for comfort and confirmation of existence, but a place where I just share myself and my thoughts, where I share what I'm designed for.

So, welcome to branded by design, welcome to 2011! Happy New Year!