Pages

Tuesday, January 24, 2012

Sebuah Refleksi Chinese New Year 2012

Bisa dibilang saya ini beruntung, menjadi seorang warga negara keturunan Tionghoa yang merasakan menjadi minoritas dan mayoritas dua-duanya. Tumbuh dan besar di Riau membuat saya lama-kelamaan menyadari bahwa saya ini berbeda dari orang Indonesia lainnya. Tapi di umur-umur kecil seperti itu, saya dan teman-teman semua buta warna, tidak mengerti bahwa perbedaan seperti ini adalah sebuah masalah bagi banyak orang. Sebagai satu dari tiga orang murid berketurunan di seantero sekolah, lebih terlihat tidak janggal juga ketika kami melebur bersama menjalin persahabatan. Mungkin bisa jadi lain cerita kalau ratio nya dinaikan menjadi 50:50.

Sekarang ketika sudah besar, dan lebih mengerti sejarah, dan lebih tidak buta warna, mulai lah saya menjadi lebih sensitif pula. Minggu lalu saya berkunjung kembali ke Riau. Di sebuah salon yang saya datangi untuk menghabiskan waktu, saya ngobrol dengan si mbak-mbak yang memijati kepala saya sepenuh hatinya. Kita semua tau bukan bahwa salon adalah tempat kliping gosip-gosip lokal maupun interlokal? Apalagi di kota kecil tempat saya besar itu. Secara saya memang bukan orang sana lagi dan kurang kenal siapa-siapa, mulai lah si mbak itu mengkorek-korek kehidupan saya. Hal pertama yang ditanyanya adalah: "Mbak, keturunan ya?" OK, saya sudah mengaku tadi bahwa saya jadi sensitif. Bukankah pada esensinya pertanyaan ini sama dengan pertanyaan polos lainnya seperti, "Mbak ini dari Padang kah?" atau "Mbak, orang Jawa ya?" Dan saya juga 100 persen berhak bertanya balik kepada si mbak creambath, dari mana kah dia berasal? Sebuah percakapan yang wajar saja bukan? Tapi ternyata sejarah mengajarkan lain, dan masyarakat bergejolak dengan berbeda pula. Pertanyaan polos tentang keturunan itu sudah dipenuhi dengan bobot konotasi yang susah dihilangkan, seperti sesuatu yang langsung menurunkan tembok pembatas, bercerita panjang tentang betapa tidak sehatinya kita. Tiga kali saya ditanya pertanyaan tersebut selama di Riau, oleh orang-orang yang berbeda, mengingatkan saya bahwa Indonesia belum siap kalau saya menjawab dengan, "Lalu, so what gitu lohhh?"

Tapi, begini kawan. Ternyata sangat benar kata-kata mutiara: Tak kenal maka tak sayang. Buktinya ketika saya bertemu dengan teman-teman lama saya, saya tidak merasa berbeda sama sekali. Tidak pernah saya mendefinisikan mereka berdasarkan warna kulit, logat, dan sebagainya. Demikian pula, saya tidak pernah merasa didefinisikan berdasarkan keturunan saya. Kami cuma ingat dulu sama-sama ingusan, teman telpon-telponan, sama-sama jiplak peer, jajan di kantin, dll. Dan yang ada justru kita mentertawakan dunia yang dengan bodohnya tidak mengerti bahwa mereka kehilangan banyak dengan adanya pengkotakan di masyarakat. Ketika saya sampai di Pekanbaru, teman saya yang berjilbab dan berkulit gelap (dia ngaku sendiri looo... bukan saya yang bilang.. hehe) berbaik hati menjemput dengan motornya. Tapi karena ternyata kaca spionnya hilang satu, dia tidak diperbolehkan masuk ke kawasan kompleks sehingga saya yang harus nyamperin dia ke gerbang kompleks. Kami saling BBM selama saya dalam perjalanan ke gerbang.

Dia: Aku bilang aja sama satpam-satpam ini kalo lagi mau jemput adek.
Saya: Hahaha, nanti kaget loh mereka..
Dia: Iya, yang satu kaya orang India, yang satu matanya sipit.
Saya dan dia serentak mengirim message yang sama: Bilang aja lain Bapak.

Ketika sampai di gerbang kompleks, memang ada 4 satpam di sana. Saya dan dia ketawa-ketawa berpelukan erat di pelataran motor, dihujani pandangan para satpam yang tidak kami pedulikan. Kami melepaskan pelukan, saling mengamati satu sama lain, "Sama-sama tambah lebar kita."

Mungkin tidak semuanya memang dapat ditertawakan. Kami berbicara tentang bagaimana di Medan, contohnya, batas-batas secara ras sangat terasa. Teman saya yang Muslim merasa sering diomong-omongi oleh orang Hokkien dalam bahasa yang tentunya tidak ia mengerti. Sebagai dokter gigi muda dia juga pernah dimusuhi orang pegawai-pegawai di klinik tempatnya bekerja yang didominasi oleh Batak Kristen. Teman saya yang dokter umum menimpali dengan kasus senioritas di universitas yang menurut saya juga "rasialisme", di mana para senior semena-mena pada juniornya karena merasa mereka lebih tua, lebih baik, mempunyai hak untuk tidak bersahabat dan mengerjai adik kelasnya. Tertawa itu hanya dapat dilakukan ketika kita hanya mengetahui kulit-kulit permasalahan atau ketika saking pelik dan tidak masuk akalnya suatu masalah, tidak ada yang dapat dilakukan lagi selain tertawa. Semua di antara kedua ekstrim tersebut, getir dan miris mendengarnya.

Setelah kembali ke Jakarta, tepatnya Kelapa Gading, kembali saya menjadi kaum mayoritas. Dari pengunjung mall, penjual makanan, para tetangga, orang Gereja, hampir semuanya berketurunan. Di komunitas seperti ini, gampang untuk meragukan bahwa masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 5% jumlahnya. Memang tidak dapat dipungkiri, birds of the same feather flock together, burung-burung berbulu sama berkumpul bersama. Psikologi menjadi mayoritas tentu berbeda dengan minoritas. Sebagai minoritas, kita lebih merasa defensif, seperti harus ada yang dibela terus menerus, menjelaskan "keanehan" kita, dan berjuang lebih untuk dapat diakui. Menjadi mayoritas membuat kita jauh lebih nyaman dan bersifat opresif, karena merasa punya banyak backing-an. Untuk menghilangkan ini semua, bukan hanya susah, tapi rasanya tidak mungkin karena sebagai manusia ada keinginan untuk selalu diakui atau memiliki rasa "belonging" entah itu di entitas terkecil masyarakat yakni keluarga, sampai ingin mempunyai harkat sebagai makhluk hidup di jagat raya.

Di pagi hari Chinese New Year 2012, saat channel TV lain menyorot pertunjukan barongsai, pasar cina, dan kegiatan Imlek lainnya, bokap saya memilih nonton TVRI. Oh, sebelum nonton TV, beliau menyapu halaman rumah, sebuah hal yang paling tabu untuk dilakukan di hari Imlek karena dianggap membuang rejeki. Saya cuap-cuap dari dalam rumah menyuruh bokap untuk berhenti nyapu karena itu yang saya dengar di TV, sementara dia tidak peduli, hanya ingin rumahnya bebas daun. So, there goes our family's luck and prosperity for the coming year. Kembali ke TVRI, ada diskusi menarik yang mengundang Christianto Wibisono dan Murdaya Poo diantara para pembicara, keduanya berketurunan Tionghoa. Bapak Christianto adalah co-founder Tempo dan Pak Murdaya adalah konglomerat di Indonesia. Diskusi diputar mengenai banyak hal mulai dari politik, bisnis, generasi muda, budaya, dan lain-lain. Tapi inti yang saya dapat adalah bagaimana kita maju ke depan sebagai bangsa Indonesia. Sudah saatnya masyarakat Tionghoa Indonesia tidak berkiblat lagi ke negara Tiongkok, tapi ke Pancasila, dan ikut berpartisipasi di rencana kenegaraan walaupun sudah dikebiri dari politik oleh Pak Harto berpuluh-puluh tahun. Ikut memikirkan bagaimana menaikkan pendidikan, merapatkan jurang ekonomi, bersaing dengan negara lain, berkontribusi ke masyarakat, bervisi sama sebagai bangsa. Tentunya bukan artinya menafikan kebudayaan Tionghoa atau melupakan asal nenek moyang, tapi untuk menjadi negara yang utuh dengan Bhinneka Tunggal Ika nya.

Sebelum Indonesia merdeka, kita itu kawasan tidak bernama yang terdiri dari suku-suku. Perang memaksa kita untuk mempunyai musuh yang sama dan tujuan yang sama. Untuk saling mengenal satu sama lain, bertukar pikiran, menjadikan orang yang tadinya asing menjadi saudara. Kadang-kadang benar kata seorang teman saya, bahwa mungkin kita ini butuh dijajah Belanda lagi untuk menjadi negara yang hebat. Kita butuh perang besar lagi untuk terpaksa saling berkenalan ulang. Sungguh, hanya sesederhana dan sedalam membuka mata dan berjabat tangan, memulai persaudaraan. Yang bersaudara akan susah untuk merasa iri, tidak akan saling mencelakakan. Bahkan saling toleransi dan menghormati, tidak dapat dilakukan kalau kita tidak mengenal siapa yang kita hormati. Bertoleransi tanpa bersaudara tidak beda dengan mengabaikan dan tidak mau tahu.

Saya jadi teringat sebuah "pidato" perpisahan dari seorang dosen Universitas Brawijaya yang hendak pulang saat itu dari Austin, Texas, tempat di mana kami sama-sama menuntun ilmu. Hampir 3 tahun yang lalu, dia berdiri di depan segerombolan mahasiswa Indonesia karena ditodong harus berbicara di acara perpisahannya. Saya tidak menyangka dia ternyata akan berbicara tentang perbedaan ras di antara kami.

"Sering kali aku ngomong sama diriku sendiri, bahwa ada sesuatu yang nggak bener ini. Aku sudah hidup selama... tiiit... (bunyi sensor), tapi aku nggak tau kenapa masyarakat memisahkan kita. Kalian dengan dunia kalian sendiri, pikiran sendiri, dan kami dengan pikiran kami sendiri. Aku merasa ga ada alasan untuk aku mengenal kalian."

Selanjutnya, selengkapnya, dan sebaiknya, silahkan dengar sendiri dari yang berbicara :)

Gong Xi Fat Choi!!! Xin Nan Kuai Le!!!

Wednesday, January 18, 2012

Snail-paced Learning #4

Just a few things in my mind lately:

1. The hardest lessons are the ones you have to learn over and over again, until you finally get it. - Taylor Swift

2. "Vagabond" is not a word for some sort of warrior with six-packed metal breast plate ready to charge at the enemy like I've always thought, it's a word for a lost wanderer. Words fool you sometimes.

3. Giving thanks for EVERYTHING makes things a lot easier. It makes you realize that you are exactly where you are supposed to be right now.

4. Want to have a run from reality for a night? Use endorphins.

5. I'm OK not because things are OK. I'm OK because I'm OK with things being not OK.

Saturday, January 14, 2012

A Horizon Behind the Farthest Line

There is a place where both of us belong
But as of now we just have to be strong
To keep going, moving
Forward, even when only echoes answer back

There's a lot to say, yet I don't feel like saying them, nor feel that there's a need to do so. But I've been coming here for a relieve, and this time it's no different.

If you see this, I want you to know that you are still wonderful.

After you left, I did not cry. It was as if I did not have a heart, and I thought that since I felt nothing, then I was already OK with everything. I did not know that it was a phase called denial. Later at night I finally had my burst, around the time when we chatted and you said thank you. I felt like the worst person in the world.

That night I was blessed because I talked about many things with a friend until well past midnight. And I was actually laughing out loud at many points during the conversation. She helped me do so.

The next day, I was blessed because my sister and I went out the whole day. She kept me company and we also had a good day at the mall, avoiding the rain. And later at church and back at home. She should know that she helped me a lot.

A friend told me that my blackberry profile picture looked sad. I said that it's just because he knew what's going on, therefore had the perception. He insisted that I looked sad even if he did not know. So, I put on a smiley face and took another picture. He said my eyes still gave my sadness away. I told him to give me a month, I'll work on it.

I'm blessed that tomorrow I'm going home. A little away from civilization, meeting old friends, and meeting my parents. I'm going to be home and I am going to find my way home again.

Until then I'll survive with fake smiles and forced twinkle in my eyes. I'll practice them until they come naturally. I'll find things to laugh about even if I have to compensate it at night. Hopefully, I'll learn to laugh when nobody's watching as well, soon.

And when everything else has failed, and I know that they will, our Friend awaits with open arms. With an open palm to keep the tears and account every drop as if each one needs His love. He'll take my struggle personally, until the day I personally struggle through it. And I know that He will ask me to work on the pain of this world alongside with Him, to heal my own.

So I hope you will also find great people to surround yourself and to laugh about anything even if it comes out fake at first.

And I guess there's nothing else to do but give thanks.

There's a horizon behind the farthest line
Where the ocean and land meet the sky
Don't be blinded by the lies
Be reminded
Just look into my eyes they'll say that

I love you always
I'll love you even when your heart breaks

-Melissa Polinar

Friday, January 06, 2012

Ting Tong!

Seven years ago, before I started college, my uncle asked me what I wanted to work as. I said I wanted to work in a non-profit organization, preferably the largest of all: the United Nations. Of course, by saying that, I dodged his question. He didn't ask where I want to work, he asked about what I wanted to be. And I guess even until now it's still hard for me to answer that question, the reason being I currently have several interests: environment, renewable energy, education, reading and writing. So, there's still no particular occupation that I can honestly state as a final destination. The only thing that I can say for sure is the answer that I already gave 7 years ago, that I want to work in a non-profit. My uncle, fortunately, did not pick up the blunder in my answer. I remember him saying: then whatever it is, make sure you carve your way to that.

Dreams are funny. They ring your bell over and over until you finally open your door. Until then you'll hear the buzz in your heart that leaves a feeling of either longing or guilt because you are doing something else. Dreams are persistent companions.

Many times we hear about people giving advice on their death beds. They are all similar, right. A bunch of I-wish-I-have-done-this-or-that-so-before-you-are-in-my-state-you-better-do-your-this-or-that kind of stuff. Why do we hear that so much? The "just do it" and "pursue your dreams" advice, are they actually overrated? If you've taken a longer look at how the world works, they are a little overrated. The first matter of concern is of course money. Are you going to make money off of doing what you really want to do, how are you supporting your family? Do you actually HAVE some money to realize your dream? Realistically speaking, most people choose money over their dreams, but if you do that, to be fair, you are not entitled to complain on your last day on Earth that your life is incomplete because of that. And, you are not allowed to give advice on that because when you were presented with your own choices you had chosen in a fully-informed condition, to be realistic. Just like how the dream-pursuers are not entitled to complain about not having the money or whatever it is that they are lacking because they have fought for their dreams.

When I was an undergrad, I was interviewed for a research assistant position. I needed it badly for a financial relieve. The professor presented his idea of the project and asked if it was something that I wanted to do. As a confused undergrad and a bad liar, I said that I wasn't sure that I was passionate about it yet, but for sure I CAN do it. He gave me a funny look and said, I knew you can do it, but I needed somebody who has more than a "can do". I was fortunate that he gave me the job anyways, but it was a close lesson for me on can vs. want and on being politically correct.

Sure, the world will be able to dictate you to have certain sum in your bank account and to have certain status. And you will do all those things and get them, sometimes out of pride, many times out of love, for your family for instance. Sometimes, there's nothing wrong with that, especially when you do it out of love, responsibility, dedication, and honor. You've got to do what you've got to do. And different people have different tolerant to that annoying little buzz in your heart. For the sensitive ones, I can represent and tell you that it can be intolerably annoying. Some moments make you want to forget what the world say and dictate it instead.

I am not sure that I had carved my way to achieving my heart calls. But it seems that I'm getting closer there despite of the many things I've done which were contradicting. I guess it's just like what Coelho said about when you want something deep down in your heart, the universe conspires to fulfill it.

My last boss, when we parted, left me with an Italian quote: In bocca al lupo. Into the mouth of the wolf, he said, something you say to somebody you know will conquer the world. Something like break a leg, in English idiom. On all of his success he said that all his life, when he had something he wanted to achieve, he never had doubts that he wouldn't be able to do it. He always knew that he would. I wish I could be like that, never having doubts. He seemed to know that I needed that Italian quote, to hear it from somebody else, because many times I couldn't say it to myself.

Hopefully, I will improve on that bit by bit.

In a recent "interview" I was given a choice, within the same company, if I wanted to go into the enterprise side which is basically the same as any other company, or if I wanted to go to their institute which is the non-profit side. Based on what I said, the interview process will continue forward in the respective department.

They did not have to ask twice.

Thank God and wish me luck! I will thank God and wish you luck, too :)

Monday, January 02, 2012

Reality Check

Di taksi blue bird..

Supir: Ibunya kerja di mana?
Saya: Engga, ga kerja...
Supir: Ibu rumah tangga? Buka bisnis?
Saya: Engga Pak, lagi cari-cari kerja aja... Errr emang udah kaya ibu rumah tangga ya?
Supir: Iya, soalnya subur..
Saya: ....