Pages

Monday, February 27, 2012

Finally and Unfortunately

Finally and unfortunately my 2 months holiday has ended :) I'm excited to start working but at the same time, come on, you can't resist holidays, sleeping in, staying up late, and a free mind. Now that I'm sort of away from home again (this time a super short distance away compared to the previous ones), I'm back to living by myself in a student style living place. The room is still pretty much empty, but I'll decorate it slowly as time goes to make it homey and mine.

With many moving experiences under my belt, I know that transitions may not come smoothly, at least for me personally. To tell the truth, my average time to become really comfortable in a new place is roughly about 1.5 to 2 years. It's not necessarily that I can't adapt well, it's more of the internal struggle to feel like I belong and to know the people and make them family instead of mere hi bye acquaintances. Despite of this, somehow God has uprooted and planted me over and over instead of letting me be settled in a place and saving me from all the pain in the transitions. I thought if He knows me and the personality I have, He really won't do that to me. But as I think about it again, perhaps it's exactly because He knows me oh too well.

Is this time going to be easier since it's my home country? I really don't know. I had a nice chat with a German guy from the office in Geneva about moving back home after being out it if for so long. We talked about the culture shock, about the things we've learnt while away, and the frustration of implementing them in a different setting. About dealing with people, different levels of human resources, unwritten rules you somehow have to know, about being an outsider in your own home because you are so out of touch with it. He asked, "So what do you think will happen?" I shrugged, "I'm throwing away all my expectations". I think that's my best bet.

I know now that my transitions generally go like this. One, honeymoon period where I get all excited about what's to come believing that it is what I have to do and where I'm supposed to be. Two, the stressful what-the-hell-was-I-thinking period where I'm struggling to find close friends and facing difficult challenges at school/work. Three, is the period where I can see the end of the tunnel, whether by having people I'm comfortable hanging out with or realizing that I'm capable to resolve challenges. Four, is the end of a chapter where I can look back and say, hey that was so worth effort.

Now, obviously I'm on phase 1 :) I don't know when phase 2 will be coming, hopefully not THAT soon, or can I please skip that this time around? Pretty please with cherry on top? Just kidding, I know that it'll come, like thief at night robbing my honeymoon time! Bleh. I am the queen of whining when it comes to phase 2. So, I just hope I'll be able to handle it better, in a more mature way, acknowledging its importance for success, acknowledging the importance of a sacred word called "perseverance".

Yesterday, I was listening to Josh Groban, and a single sentence resonated strongly with my thoughts. It's in a song called "Home to Stay", about a girl who goes around to many places, and a guy who patiently awaits until she is ready to go back home. And so sorry for taking the sentence out of context, but it says, "You couldn't live a life with maybe's and what-if's". And I realized that perhaps that's partly why I've been moving around despite of internal dramas it has caused, and also partly why I'm back here in Indonesia instead of pursuing things in other "better" places. I don't want to bear having what-if's.

So for now, cheers to phase 1, to a new room with unfamiliar looking neighbors, and to Josh Groban's sexy vibrato!

And by the way, have a good Lent filled with new perspectives, the spirit of reconciliation, and love of and for God :)

Tuesday, February 14, 2012

Resensi Buku: Hugo Cabret

Ini adalah salah satu buku yang sudah lama dilirik-lirik :) Pertamanya waktu bolak-balik buku ini di toko, melihat setengah dari isinya adalah gambar-gambar, saya berasa mungkin agak rugi untuk membeli. Jadi waktu itu saya mengurungkan niat. Di gramedia kemaren saya lihat versi terjemahannya sudah keluar dengan harga yang relatif lebih murah. Dan karena film adaptasinya juga sudah keluar serta mendapat banyak penghargaan, saya jadi lebih penasaran dan akhirnya beli juga :) It was a really good treat!



Sinopsis & Karakter:

Tokoh utamanya adalah anak laki-laki umur 12 tahun yang yatim piatu karena ayahnya baru meninggal di sebuah kebakaran. Cita-citanya adalah menjadi clock master seperti ayahnya dan juga menjadi handal menjadi pesulap yang banyak menggunakan mesin-mesin menakjubkan dalam shownya. Inti ceritanya adalah perjalanan Hugo dalam usahanya untuk memperbaiki sebuah automaton yaitu alat yang dapat bergerak jika dinyalakan yang ditinggalkan ayahnya sebelum meninggal. Automaton itu jika benar, dapat menulis dan Hugo berharap akan ada pesan dari Ayahnya jika mesin itu jalan.

Ceritanya sangat fast-paced sehingga banyak rahasia terbongkar dalam jelang yang singkat dan membuat saya jadi ingin baca tanpa berhenti. Hugo sendiri memiliki rasa ingin tahu dan daya juang yang tinggi. Ditinggalkan sebatang kara oleh keluarganya membuat dia menjadi anak yang mandiri dan berani. Karakter lain adalah Isabelle, seorang anak perempuan dan bapak baptisnya Georges Mellies. Dua karakter ini dikupas pelan-pelan dan diperkenalkan sedikit-sedikit sehingga bikin penasaran. Apa hubungannya mereka dengan Hugo... susah dijelaskan tanpa membocorkan jalan cerita :)

Plus points:

Gambar-gambarnya detail dan bagus. Jalan ceritanya dengan banyak hal terselubung memang membuat buku ini sangat menarik. Plotnya yang unik, tema yang belum pernah ditemui sebelumnya menambah wawasan pembaca dan bikin kita pengen langsung meng-google: automaton. Ada beberapa bagian cerita yang berdasarkan kisah nyata membuat saya menghargai besarnya usaha pengarang untuk mengulas sejarah dengan tetap mempertahankan kesederhanaan cerita anak-anak. Meskipun buku ini ditargetkan untuk anak-anak, dengan isi cerita seperti ini, tentunya tidak hanya anak-anak yang jadi tertarik (contohnya saya :) )

Minus points:

Hard to say... I just wished it could be a longer book so I wouldn't have to finish it so soon :(

In conclusion:

Empat bintang **** (4/4) dari saya. Highly recommended. Kalau filmnya main di Indonesia pasti saya nonton. Buku terbaik yang saya baca di awal tahun 2012 ini.

Di bawah ini adalah salah satu gambar di bukunya yang saya suka. Hugo lagi berada di toko buku bekas di mana Isabelle sering meminjam buku.

Friday, February 10, 2012

Resensi Buku: Tea for Two

Sudah lama pengen baca bukunya Clara Ng tapi baru sekarang kesampaian. Ternyata Clara Ng adalah lulusan Ohio State University.. Go Bucks :) Saya sebenernya pengen beli buku anak-anak karangannya, tapi ternyata harganya lumayan mahal untuk ukuran buku anak. Hehe.. jadi nanti dulu ya. Kebetulan buku ini nongkrong di raknya kakak saya, jadi mari kita sikat!!

Sinopsis:

Tokoh utamanya adalah Sassy, seorang entrepreneur yang bekerja di bidang percintaan yaitu sebagai pemilik perusahaan biro jodoh. Perusahaan ini dia bangun sendiri sampai akhirnya mulai merambah ke wedding organizer yang mulanya melayani pasangan-pasangan yang berhasil dia jodohkan. Di tengah karirnya dia bertemu dengan Alan yang membuatnya sangat amat jatuh cinta sehingga mau merelakan banyak hal untuk Alan termasuk pekerjaan dan teman-teman terdekatnya. Sayangnya setelah mereka menikah, ternyata Alan banyak melakukan KDRT. Buku ini menceritakan bagaimana Sassy menghadapi isu KDRT dan bagaimana sikap Alan sebagai pelaku kekerasan.

Plus points:

Alur ceritanya sangat baik, ada beberapa flashback yang diletakkan dengan bagus sehingga tidak membingungkan. Sebagian cerita dikisahkan dari sisi orang ketiga, dan sebagian lagi dari sisi Sassy sebagai orang pertama. Dua cara penceritaan ini berganti-gantian dan membuat bukunya lebih enak dibaca dan lebih berdinamika. Relasi Sassy dan teman-temannya sangat menyenangkan dan percakapannya juga natural.

Minus points:

Alan sangat menyebalkan. Bukan hanya karena dia KDRT tapi karena dia tidak realistik. Kalimat-kalimat yang diucapkan formal dan kaku seperti di sinetron murahan. Karakternya juga tidak nyata, terlalu dibuat-buat, nyaris terdengar seperti psikopat. Banyak idiom-idiom bahasa Inggris yang disadur ke bahasa Indonesia oleh penulis sehingga terbaca seperti novel terjemahan. Selain itu, berdasarkan topik, untuk saya pribadi tidak relatable, meskipun saya mengerti bahwa KDRT itu banyak terjadi.

In conclusion:

Buku ini hanya akan saya rekomendasikan ke orang-orang yang saya pikir bisa relate dengan topiknya. Kurang menyenangkan dibaca karena tidak ada twists and turns dan karena karakter Alan yang lebay. Tapi Clara Ng menulis plot dengan baik dan cara penulisannya cukup bags. Maybe I'll check out her other books... maybe that children's books with wonderful illustrations :)

Saya sendiri kurang suka dengan buku ini, but maybe exactly because I'm not the target audience. She kind of segments her readership from the start by stating this in her dedication page. So, if you feel that you are in that category, go ahead and read :)

Resensi Buku: Kening

Dikarenakan kurang kerjaan :) saya menyambut hangat rekomendasi seorang teman untuk membuat resensi buku di blog ini. Kurang kerjaan bukan berarti kurang kegiatan. Dan membaca akhirnya menjadi salah satu kegiatan utama. Hobi sambil lewat yang tiba-tiba bisa jadi "full-time job" ini membuat saya menyelesaikan 3 buku dalam 3 hari belakangan.

Mudah-mudahan resensi ini bermanfaat dan jika Anda tidak tertarik mengetahui pendapat panjang saya mengenai bukunya, gambar beserta info singkat dan hasil akhir rating pribadi saya cantumkan di bawah ini. Sistem rating saya santai saja, sangat subjektif berdasarkan suka tidak sukanya saya. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Bintang 1: * Buku tidak menarik. Tidak direkomendasikan untuk membeli & membaca. Will not recommend.
Bintang 2: ** Silahkan baca jika iseng dan ada waktu. Will not recommend unless the genre fits really well with the person's personality.
Bintang 3: *** Buku menarik, bisa karena lucu, bermanfaat, menghibur, unik. Will recommend.
Bintang 4: **** I'm jumping up & down, highly recommended, hard to put down and I'm sad when it's done.



Sinopsis dan Karakter:



Kening ini adalah buku perdananya Fitri Tropika, seorang pelawak, MC, mantan penyiar radio, yang pastinya sudah dikenal di Indonesia. Dinamakan "kening" karena di sini Fitri menulis macam-macam tentang dirinya, membuka sisi yang tidak banyak diketahui orang-orang, umpamanya seperti menyibakkan poni untuk menunjukkan kening nong nongnya yang biasanya ditutupi. Terdiri dari 12 bab, namun 6 bab pertama adalah isi utama buku ini, yaitu tentang kisah cintanya Fitri: bagaimana dia bertemu dengan mantan pacar yang paling lekat dihatinya, kisah-kisah mereka yang lucu dan sweet, sampai akhirnya harus berpisah. Termasuk bagaimana dia berusaha melupakan dan move on from him. Enam bab terakhir adalah cerita-cerita pendek, ada yang tentang orang tuanya, dongeng pribadinya, cerita jadi mojang di kompetisi sma, dan ada juga jawaban-jawaban twitternya.

Menurut saya, harusnya cerita di 6 bab pertama tentang percintaan itu diperpanjang dan dijadikan buku yang utuh. Saya tidak terlalu menikmati 6 cerita selanjutnya karena sudah keburu jatuh cinta sama karakter Fitri dan mantan pacarnya si Agra. Fitri tentunya terkenal lucu, tapi di buku ini juga ditunjukkan kalau dia sangat sweet, sensitif, smart (terlihat dari referensi yang diambil dan gaya menulisnya yang lugas), dan perhatian sama orang (pacar, keluarga, teman, juga pacarnya mantan pacar :) ). Agra sendiri anaknya cool karena mengerti banyak tentang musik, tinggi cakep, romantis tapi tidak terasa lebay. Sayangnya kurang tegas dan terkesan suka memainkan perasaan cewek, disengaja atau tidak. Tapi by the time I finished the 6th chapter, I really want them to be together. So sweet, yet so real.

Plus points:

Ceritanya enak dibaca dan terasa kalau ditulis dari hati. Perasaan-perasaan yang digambarkan sangat "mentah dan telanjang" tanpa harus diolah, tanpa harus didandani. Ceritanya mengalir dan mengajak pembaca untuk mengenal karakter-karakternya seakan mereka adalah teman. Tidak menyangka ternyata Fitri Tropika berbakat menulis. Jujur, sebelum baca saya pikir bukunya tidak akan bagus secara merasa Fitri menumpang keartisannya untuk menjual buku. Referensi ke musik dan film menunjukkan pengetahuan Fitri yang luas. Cover bukunya bagus, lucu dan retro-ish.

Minus points:

Again, the last 6 chapters are not necessary and are distractions to me, but enough about that. Secara gaya bahasa sebenarnya sedikit mengganggu ketika ada bahasa Inggris yang grammarnya salah :) Atau sering kali "I" ditulis dengan huruf kecil. Sangat disayangkan. Di cover bagian belakang, ditulis pendapat-pendapat artis seperti Vidi Aldiano dan Titi Sjuman. Girl, you shouldn't need their opinions to sell this book. It's good enough. Justru dengan menonjolkan pendapat mereka kesannya tidak pede dengan karya sendiri. I would appreciate a synopsis of the book instead.

In conclusion:

Bintang 3 (dari 4) dari saya yang artinya bukunya menarik dan bisa direkomendasikan. Sangat-sangat menghibur bahkan beberapa kali saya ketawa sendiri. Karakter-karakternya sangat lovable dan kejujuran dari Fitri membuat bacaan ini menyenangkan karena jadi bisa mengintip ada apa sebenarnya di otak cewek pecicilan sepertinya :)

Last but not least, here's the most quoted part of the book. Kamu: semangatku.